pesantren at-tauhid: tonggak pendidikan modern pesantren sidoresmo

Hari itu, Senin 11 Juli 2005. Hari masih pagi, tatkala penulis menyusuri kota Surabaya untuk sebuah tugas liputan berita ke daerah. Bahkan saat penulis tiba di Wonokromo, waktu masih cukup pagi. Jam menunjukkan pukul 07.00 WIB dan orang-orang kota sedang masuk ke kantor untuk memulai aktivitas kerja dan pergi ke pasar sehingga jalanan kota diliputi deru kendaraan dan lalu lalang orang.

Namun, niat penulis sudah bulat untuk mencari sepotong alamat yang tergenggam di tangan untuk menemukan pondok pesantren Sidoresmo, sebuah pesantren tua di Surabaya yang menjadi salah satu agenda peliputan.

Meski di pagi hari itu, penulis didera kebimbangan, tapi tidak membuat penulis putus semangat. Karena itu, penulis memutuskan lebih baik naik becak seperti saran seorang teman asli Surabaya yang sebelumnya penulis hubungi lewat telpon, “Daripada susah-sasah mencari alamat, mending kamu naik becak jika hendak ke pesantren, sebab semua tukang becak di Wonokromo sudah tak asing dengan ponpes Sidoresmo”. Saran itulah yang akhirnya penulis pilih.

Rupanya, saran itu benar adanya. Selain, tukang becak yang kebetulan penulis pilih sudah mengenal kampung Sidoresmo ternyata untuk sampai ke pesantren juga tak memakan waktu lama. Sekitar 10 menit, sampailah penulis di gang masuk ke pesantren. Tetapi, betapa terkejutnya penulis saat turun dari becak dan menemukan kampung Sidoresmo itu dipenuhi dengan komplek pondok. Tak kurang 13 pesantren berdiri di kampung yang dikenal dengan nama Sidoresmo itu. Hilir mudik santri di pagi itu malah memenuhi ruas gang pondok.

Akhirnya, penulis menetapkan untuk memilih pesantren At-Tauhid untuk peliputan. Berikut ini adalah hasil liputan penulis seputar sejarah berdirinya pesantren At-Tauhid, pola pendidikan dan kegiatan sehar-hari santri yang menghuni bilik pesantren At-Tauhid, yang beralamatkan di Sidoresmo Dalam II/37 Surabaya.

Memiliki Sejarah Panjang
Berbicara tentang pesantren At-Tauhid, tentunya tidak bisa dilepaskan dari pesantren Dresmo (Sidoresmo) sebagai cikal bakal awalnya. Sebab, pesantren At-Tauhid adalah salah satu penerus (bagian pesantren Dresmo) yang di tengah kemajuan zaman kemudian memilih menerapkan sistem pendidikan madrasah dan sekolah, selain mengajarkan kitab-kitab klasik. Sementara keberadaan pesantren Dresmo sendiri, tidak bisa dilepaskan dari kiprah Mas Ali Akbar yang telah membuka lembaran emas keluarga (besar) Sidoresmo yang ditempati tiga belas pesantren yang masih terikat satu ikatan keluarga. “Jadi, antara pesantren satu dengan pesantren yang lain itu masih satu keluarga”, demikian awal penuturan Muh. Rido`i (salah satu santri kepercayaan dari KH. Mas Mansyur Tholhah –pengasuh pesantren At-Tauhid) tentang awal mula sejarah pondok Pesantren At-Tauhid.

Syayyid Ali Akbar itu dulunya pernah menjadi murid Sunan Ampel. Setelah dinilai cukup mumpuni, Sayyid Ali Akbar kemudian ditugaskan menyebarkan ilmu agama Islam dan menemukan daerah sebelah timur Wonokromo. Di daerah itulah, Sayyid Ali Akbar babat alas untuk mewujudkan niat mendirikan kampung santri. Dari tahun ke tahun, ternyata kampung itu menjadi ramai dan banyak dikunjungi orang.

Ada cerita berkaitan penamaan kampung Sidoresmo. Suatu malam, ketika Sayyid Ali hendak melaksanakan shalat tahajud di masjid, beliau melihat ada 5 santrinya yang sedang nderes. “Dari situ, lalu beliau mendapat inspirasi untuk menamai desa itu dengan sebutan Dresmo, asal kata dari kalimat “NDERES SANTRI LIMO” yang kemudian lebih popular disebut Sidoresmo (Sido Nderes Santri Limo) hingga sekarang”, cerita Muh. Rido`i mengenai penamaan kampung Sidoresmo.

Sepeninggal Sayyid Ali, perjuangan itu kemudian diteruskan salah satu putra beliau yang bernama Mas Sayyid Ali Asghor. Sebagaimana perjuangan ayahnya yang penuh liku-liku dan dengan berani melawan penjajah Belanda, Sayyid Ali pun dengan berani menentang Belanda selain menjadikan pesantren sebagai tempat dalam menyebarkan Islam.

Pesantren Sidoresmo hingga kini dikenal sebagai pesantren tua di Surabaya dan dari penerusnya telah mencetak beberapa ulama Surabaya pada khususnya dan di pulau Jawa pada umumnya Salah satu dari penerus itu tercatat Mas Sayyid Abdul Qohar yang telah berhasil memasyarakatkan kita-kitab fiqh di pesantren. Dari kiprah beliau, tercatat telah berhasil mencetak santri-santri yang jadi ulama besar, di antaranya Kiai Sholeh (pendiri Pesantren Pelangitan Widang Tuban Jatim) dan Kiai Sholeh (pendiri pesantren Darat Semarang).

Dari salah satu seorang pewaris perjuangan dan ahli waris keturunan pendiri ponpes Sidoresmo tercatat nama KH. Mas Tholhah Abdullah Sattar, beliau dilahirkan di Surabaya 12 Desember 1919 M (yang kemudian mendirikan ponpes At-Tauhid). Pada masa mudanya, sebagaimana pemimpin pesantren Sidoresmo terdahulu, beliau juga dikenal aktif melakukan perang gerilya bersama tentara Hizbullah dan pasukan Panglima Besar Jenderal Soedirman.

Setelah Indonesia merdeka, KH Mas Tholhah melihat bahwa pola pendidikan dan pengajaran di pesantren dirasakan masih perlu adanya perbaikan dan peningkatan sistem. Karena itulah, beliau kemudian bertekat keras melaksanakan niat itu sehingga tahun 1969 M, berdirilah ponpes Islam At-Tauhid Sidoresmo. Pesantren ini bernama pesantren Islam At-Tauhid yang berkedudukan di Sidoresmo Surabaya Dalam 37 Surabaya. Ponpes ini didirikan –secara formal –tahun 1969 M. oleh KH Mas Tholhah Abdullah Sattar selaku pewaris dan pengasuh ponpes Sidoresmo sejak kurang lebih 400 tahun yang silam.

Diberi nama pondok pesantren Islam At-Tauhid oleh pendirinya KH. Mas Tholhah Abdullah Sattar dengan harapan (tafa`ulan) agar masyarakat sekitar pondok setidaknya dapat; pertama, senantiasa meng-Esa-kan Tuhan. Kedua, memenuhi tujuan hidup, menghambakan diri hanya pada Allah. Ketiga, tetap menyatukan nilai-nilai persaudaraan (ukhuwah islamiyah, ukhuwah watoniyah dan ukhuwah basariyah).

Sistem Pendidikan Pesantren
Bersamaan itu pula, dibukalah Madrarah tingkat Ibtida`iyah. “Gagasan ini sebenarnya dari KH Mas Tholhah, namun yang ditunjuk untuk melaksanakannya adalah putranya KH. Mas Mansyur Tholhah. Saat itu, KH Mas Tholhah masih hidup, namun sang putra diberi wewenang untuk mendirikan madrasah,” ucap Muh. Rido`i mengenai gagasan awal pendirian madrasah dan pendidikan modern di pesantren At-Tauhid.

Pada tahun ajaran 1976-1977 M. Madrasah Ibtida`iyah mulai mengeluarkan lulusan pertama dengan ijazah negeri, pada tahun ajaran 1977-1978 M. berdiri Madrasah Tsanawiyah dan pada tahun ajaran 1980-1981 M. mengeluarkan ijazah negeri untuk tingkat SLTP. Karena waktu itu belum ada tingkat aliyah, lulusan Madrasah Tsanawiyah At-Tauhid melanjutkan ke Madrasah Aliyah di luar pondok. Kini sudah banyak yang duduk di bangku kuliah dan ada yang dikirim ke Timur Tengah. Pada tahun ajaran 1985-1986 M mengeluarkan lulusan Aliyah pertama. Selanjutnya demi tuntutan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan pendidikan agama secara mendalam, tahun 1988 M. didirikanlah Madrasah Diniyah (khusus pendidikan agama) dan pada tahun 1992 M, didirikan juga taman pendidikan al-Qur`an (TPA).

Tak salah, jika dari kiprah KH. Mas Tholhah Abdullah Sattar yang dilaksanakan oleh putra beliau bernama KH. Mas Mansyur Tholhah kini pesantren At-Tauhid telah melakukan pengembangan sistem pendidikan dengan pijakan Al-Muhafadzotu Alal-Qodimi Sholih wal-Akhdzu bil-Jadidil Ashlah, serta memperbaiki sistem pengajaran yang bernidhom dari tingkat Raudlotul Athfal, Ibtidaiyah sampai tingkat Aliyah, baik di bidang pendidikan agama maupun kejuruan serta mengadakan perbaikan sarana-prasarana dan fasilitas pendukung lain dengan memberikan tuntunan dan menanamkan rasa mawaddah warahmah antar-santri (siswa-siswi) dengan guru-guru/pengasuh dan masyarakat dalam artian luas. Selain itu, juga mengadakan kursus pengetahuan agama dan umum terutama ilmu ketauhidan.

Pendidikan yang merupakan misi utama pesantren Islam At-Tauhid ini menggunakan dua macam sitem, yaitu;

1. Pendidikan formal
Pendidikan formal ini dimaksudkan guna mendidik santri memperhatikan tingkatan pendidikan, tingkat kecerdasan, pengelompokan kelas, penilaian angka prestasi secara berkala dan lain-lain dengan menggunakan metode tertentu. Ada pun pendidikan formal ini terdiri dari tingkatan, antara lain; Raudhotul Athfal (RA/TK) 2 tahun untuk putra dan putri yang dilaksanakan pagi hari, Mdrasah Ibtidaiyah (MI) 6 tahun (putra/putri) yang pelaksanaannya di pagi hari, Madarasah Tsanawiyah (MTs) dengan masa pendidikan 3 tahun (untuk putra dan putri) yang dilaksanakan di siang hari, Madrasah Aliyah (MA) 3 tahun (putra dan putri) di pagi hari, Madrasah Diniyah (MD) 6 tahun (putra dan putri) dilaksanakan di malam serta Taman Pendidikan Al-Qur`an (TPA) 2 tahun (putra dan putri) dilaksanakan di sore hari.

Semua tingkatan di atas berafiliasi kepada Depag RI dengan status “diakui” kecuali Madrasah Diniyah dan Taman Pendidikan Al-Qur`an yang berstatus “terdaftar”.

Adanya penerapan sistem pendidikan formal di ponpes At-Tauhid dengan berbagai macam tingkatan disamping untuk mengikuti perkembangan era pendidikan dewasa ini juga sebagai jawaban atas tuntutan masyarakat di lingkungan sekitar akan adanya pesantren yang mengakomodasi sistem pendidikan nasional.

2. Pendidikan Non Formal
Selain adanya pendidikan formal, di ponpes At-Tauhid juga dilaksanakan pendidikan non-formal dengan maksud untuk mendidik para santri (murid) dengan tidak secara khusus memperhatikan tingkatan anak, tidak ada kualifikasi kelas, tingkat pendidikan dan penilaian (evaluasi) berkala secara khusus. Tetapi bukan berarti evaluasi ditiadakan sepenuhnya, hanya saja pelaksanaannya menggunakan sistem penilaian kualitatif, tidak seperti pendidikan formal yang evaluasinya dilakukan dengan penilaian angka prestasi.

Pendidikan semacam ini di ponpes At-Tauhid diselenggarakan dalam bentuk, antara lain; pengajian kitab kuning, menggunakan tiga macam metode (tri motode) yang terkenal dengan nama sorogan, wetonan dan bandongan. Adapun untuk membekali santri dengan keahlian khusus, diadakan pendidikan ketrampilan.

Lewat pendidikan itu, santri dibekali beberapa ketrampilan seperti menjahit. Awal mulanya beberapa santri dikirim untuk mengikuti penataran dan pelatihan jahit-menjahit di pesantren Tekeran Magetan dan BLKI propinsi Jawa Timur di Surabaya, sehingga sekembali mereka dimulailah pendidikan ketrampilan menjahit di ponpes At-Tauhid dengan harapan agar para santri memiliki salah satu modal untuk hidup mandiri.

Selain itu, masih ada ketrampilan pertukangan, pendidikan kesenian, (diawali dengan selesainya santri dari mengijuti penataran tingkat Nasional di Ponpes Darun Najah Jakarta, 19 November 1981), pendidikan kemasyarakatan (berbentuk latihan dan jami`yah (organisasi), yaitu latihan berpidato (khithobiyah) setiap malam Jum`at untuk santri putra-putri), jam`iyah tahlil dan kegiatan kemasyarakatan lainnya, selain olah raga dan bela diri. Adanya olah raga dan bela diri dimaksudkan agar daya tahan jasmani setiap santri sehat yang konsekuensinya akal dan pikiran santri menjadi sehat pula. Pendidikan ini meliputi sepak bola, bola volley, tennis menja, bulu tangkis, pencak silat dan karate do.

Selain berbentuk pelatihan, juga dilaksanakan kursus-kursus, meliputi kursus bahasa Arab, bahasa Inggris, keorganisasian, komputer dan lain sebagainya. Lebih dari itu, masih ada pendidikan kesejahteraan keluarga khusus untuk santri putri.

Staf Pengajar
Sebagaimana kata pepatah, guru adalah orang yang berjasa dalam kehidupan seorang murid (santri). Hal yang sama juga berlaku bagi lulusan ponpes At-Tauhid. Sampai sekarang ini, tidak dapat dimungkiri kalau ponpes At-Tauhid telah melahirkan banyak santri dan tentu saja keberhasilan lulusan ponpes At-Tauhid tidak terlepas dari kiprah pengasuh dan para staf pengajarnya. Dari kualitas lulusan itulah, pesantren ini menjadi tempat yang cukup diminati bagi orangtua murid untuk menitipkan putra putrinya, yang kebanyakan bertempat tinggal di sekitar Jawa Timur.

Adapun untuk staf pengajar, sebagian besar dewan guru berdomisili di ponpes At-Tauhid sehingga dengan mudah dapat mengawasi langsung para santri sehari-hari di luar jam sekolah dengan keuntungan guru dapat mengawasi dan mengarahkan para santri setiap saat. Guru yang berdomisili di pesantren disamping mengajar/mendidik murid dalam pendidikan formal juga aktif mengajar dan mendidik santri dalam pendidikan non formal, baik berupa pengkajian kitab-kitab klasik maupun lainnya.

Sekarang ini, jumlah santri ponpes At-Tauhid Sidoresmo secara keseluruhan sekitar 1055 orang. Dari jumlah itu 350 orang berdomisili di pesantren At-Tauhid dan sisanya 705 orang berangkat dari rumah atau kampung.

Tahfidhil Qur`an
Selain pendidikan yang telah disinggung di atas, ponpes satu ini masih juga memiliki unit pendidikan tahfidhil Qur`an. Unit pendidikan ini diwujudkan demi memenuhi permintaan umat Islam di Surabaya dan Jawa Timur pada umumnya. Apalagi, sebelumnya seringkali ada surat yang disampaikan kepada pimpinan pondok, yang meminta untuk adanya pendidikan tahfidhil Qur`an.

Namun, hal itu belum bisa dilaksanakan dan baru 1986 dengan ijin Allah dan didasari keikhlasan, diresmikan Madrasah Tahfidzil Qur`an tepatnya tanggal 10 Muharram 1407 H, oleh KH Mas Tholhah Abdullah Sattar, selaku pesangsuh ponpes At-Tauhid. Akhirnya, dengan dibangunnya ponpes At-Tauhid ini yang masih keturunan pendiri pesantren Sidoresmo, tak bisa dibantah merupakan tonggak pendidikan modern di pesantren Sidoresmo.

Ternyata, tidak terasa kalau penulis sudah hampir empat jam berada di ponpes tua di kota yang dijuluki kota pahlawan ini. Mungkin semua itu, dikarenakan sambutan hangat yang diberikan oleh pengasuh dan santri, yang membuat penulis lupa jika ada tugas lain yang harus dikerjakan dan diliput. Setelah penulis merasa kenyang dan hilang dari dahaga, akhirul kalam berpamitan dan bergegas pergi menyusuri kota Surabaya yang panas --karena matahari sudah berada di atas kepala.

0 komentar:

Poskan Komentar

أتباع