Tampilkan postingan dengan label TAUSIYAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TAUSIYAH. Tampilkan semua postingan

sayyidul istighfar (penghulu istighfar)

Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam merupakan teladan bagi orang-orang beriman dalam segala hal. Beliau teladan dalam hal dzikrullah (mengingat Allah). Sehingga suatu ketika Ummul Mukminin, Aisyah radhiyallahu’anha pernah memberi kesaksian.
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَذْكُرُ اللَّهَ عَلَى كُلِّ أَحْيَانِهِ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ
Aisyah radhiyallahu’anha berkata: ”Nabi shollallahu ’alaih wa sallam senantiasa mengingat Allah dalam setiap keadaan.” (HR Bukhary 558)

REKOR MASUK NERAKA

fotoAndaikan makhluk yang bernama fatwa sudah sejak dulu menemani bangsa Indonesia, tentu masyarakat kita menjadi terbiasa bergaul dengannya sehingga tidak mudah uring-uringan seperti yang hari-hari ini terjadi.


Misalnya pada awal 1900-an kaum ulama melontarkan fatwa bahwa Kebangkitan Nasional bangsa Indonesia itu wajib hukumnya (sehingga tidak bangkit itu haram hukumnya). Demikian juga mempersatukan seluruh pemuda Indonesia itu fardhu kifayah( semua orang tidak bersalah asal ada sebagian yang menjalankannya).
Sumpah Pemuda itu fardhu ‘ain, kewajiban bagi setiap orang, kalau tidak bersumpah bergabung dalam persatuan Indonesia haram hukumnya. Berikutnya begitu Hiroshima- Nagasaki dibom atom, ulama Indonesia sigap melontarkan fatwa bahwa memproklamasi kan kemerdekaan Republik Indonesia itu wajib sehingga masuk neraka bagi siapa saja yang menolak 17 Agustus 1945.

PINTU-PINTU MASUKNYA SYETAN DALAM DIRI MANUSIA.

Hati manusia bagaikan benteng sedangkan syetan adalah musuh yang senantiasa mengintai untuk menguasai benteng tersebut. Kita tidak bisa menjaga benteng kalau tidak melindungi atau menjaga/menutup pintu-pintu masuknya syetan ke dalam hati. Kalau kita ingin memiliki kemampuan untuk menjaga pintu agar tidak diserbu syetan, kita harus mengetahui pintu-pintu mana saja yang dijadikan syetan sebagai jalan untuk menguasai benteng tsb. Melindungi hati dari gangguan syetan adalah wajib oleh karena itu mengetahui pintu masuknya syetan itu merupakan syarat untuk melindungi hati kita maka kita diwajibkan untuk mengetahui pintu-pintu mana saja yang dijadikan jalan untuk menguasi hati manusia.

Pintu tempat masuknya syetan adalah semua sifat kemanusiaan manusia yang tidak baik. Berarti pintu yang akan dimasuki syetan sebenrnya sangat banyak, Namun kita akan membahas pintu-pintu utama yang dijadikan prioritas oleh syetan untuk masuk menguasai manusia. Di antara pintu-pintu besar yang akan dimasuki syetan itu adalah:

YESUS DATANG BUKAN UNTUK MEROMBAK TAURAT.

Berbeda dengan apa yang dianut , diayakini, dan dipahami oleh orang-orang Kristen sekarang ini terhadap Keesaan Tuhan , Alkitab sendiri memberikan kesaksian bahwa Yesus sendiri, sebagaimana juga Rasul-Rasul yang lain diutus oleh Allah memegang teguh kepercayaan akan “keesaan Tuhan”.

Hal ini diungkapkan beliau sesuai dengan kesaksian penulis-penulis Injil bahwa Yesus sama sekali tidak membawa suatu ajaran baru yang menghapuskan ajaran Nabi-Nabi terdahulu. Kepada orang-orang Bani Israel beliau menjelaskan kedatangannya bukanlah untuk merombak ajaran Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa melainkan hanya “menggenapi” atau mengadakan semacam “reenforce” terhadap Perjanjian Lama.
Orang-orang Yahudi sepeninggal Musa, telah melupakan ajaran Nabi Musa itu dan Yesus datang kembali untuk mengingatkan agar mereka kembali berpegang kepada Kitab Taurat.Lebih lanjut Yesus menjelaskan misinya kepada Bani Israel itu:

“Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau Kitab para Nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu:

Petunjuk Universal untuk Manusia sebagai Tujuan Penciptaan

Petunjuk Universal untuk Manusia sebagai Tujuan Penciptaan
Setiap yang ada di alam ini, yakni benda-benda hidup ataupun mati, mempunyai suatu tujuan yang hendak diwujudkannya sejak awal kejadiannya; ia telah diberi sarana-sarana tertentu untuk mewujudkannya; dan dengan sarana-sarana itu ia mencapai tuju­annya. Allah berfirman yang artinya:

 "Tuhan kami ialah Tuhan yang telah memberikan kepada tiap­tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk." (QS 20:50)
  

PESAN AL-GHAZALY DALAM KITAB (Minhajul Abidin)


Imam Al Ghazaly dalam bukunya yang berjudul Minhajul Abidin, mengatakan, bahwa Ilmu yang fardlu ain yang wajib dituntut oleh seorang muslim adalah mencakup 3 hal, yaitu :
  • Ilmu Tauhid
  • Ilmu Syariat
  • Ilmu Sir (Ilmu tentang hati)
Dan tidaklah ilmu-ilmu itu semua dituntut untuk tujuan berargumentasi atau memberikan keyakinan kepada orang lain baik yang beragama Islam maupun bukan.
Tetapi ilmu tersebut fardlu ain untuk dituntut, yang berhubungan dengan untuk perubahan diri.
Ilmu Tauhid dan syariat, dikalangan ummat Islam sekarang ini demikian popular untuk dipelajari. Namun jarang sekali orang yang mempelajari dan mengerti mengenai Ilmu Sir (Ilmu tentang hati).
Lantas mungkin kita akan bertanya, untuk apakah belajar Ilmu tentang hati, atau macam manakah ilmu tentang hati tsb?
Rasulullah SAW pernah bersabda :
“Dalam diri manusia ada segumpal darah. Yang apabila shalih (tidak rusak), maka akan shalih seluruhnya, tetapi apabila buruk maka akan buruk pula seluruhnya, itulah hati”.
Bahkan di hadits lain, Rasulullah SAW mengatakan : ” Sesungguhnya sebuah amal itu bergantung dari niatnya“.
Sungguh, hal-hal ibadah syariat yang kita laksanakan sepanjang hari akan tidak mempunyai nilai, bila tidak disertai niat yang shalih…
Dan letak niat itu adalah di HATI.
Demikian besar fungsi hati, sehingga wajar saja bila Imam Al Ghazaly mengkatagorikan Ilmu ini menjadi ilmu yang fardlu ain untuk dituntut.
Dikajian tasawuf, pembahasan tentang hati merupakan agenda utama. Hal ini sesungguhnya untuk penyelarasan dari Ilmu Tauhid dan Syariat, yang sebelumnya (oleh kebanyakan orang) telah dipelajari.
Dalam sebuah kata-kata hikmah (bagi sebagian ulama ini dikatakan sebagai hadits dari Rasulullah SAW) bahwa : “Man ‘Arofa Nafsahu faqod ‘Arofa Rabbahu“. “Barangsiapa mengenal dirinya (nafsahu) maka ia akan mengenal Tuhannya”.
Sementara Ali. R.A mengatakan bahwa : “Awwaluddina Ma’rifatullah“. “Awalnya beragama adalah mengenal Allah”.
Sehingga dapat dilihat hubungannya, bahwa Mengenal diri (An-Nafs) merupakan awal dari seorang beragama dengan haq.

HATI
Diri manusia dapat dilihat secara indrawi dengan perilaku dan perangai seseorang. Dan seorang berperilaku, seorang berperangai, merupakan cerminan dari HATI-nya.
Sehingga untuk mengenal diri kita, kita harus memulainya dengan mengenal Hati kita sendiri.
Hati itu terdapat 2 jenis :
1. Hati Jasmaniyah
Hati jenis ini bentuknya seperti buah shaunaubar. Hewan memilikinya, bahkan orang yang telah matipun memilikinya.
2. Hati Ruhaniyyah
Hati jenis inilah yang merasa, mengerti, dan mengetahui. Disebut pula hati latifah (yang halus) atau hati robbaniyyah.
Dalam kajian kita, yang dituju dengan kata HATI atau Qalb adalah hati jenis 2, hati Ruhaniyyah.
Karena Hati inilah yang merupakan tempatnya Iman :
Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu (QS. 49:7)
karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu  (QS. 49:14)
Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka (QS. 58:22)
Bahkan lebih dari itu, dalam sebuah hadits Qudsi dikatakan :
Tidak akan cukup untuk-Ku bumi dan langit-Ku tetapi yang cukup bagi-Ku hanyalah hati (qalb) hamba-Ku yang mukmin”.

أتباع